Kado Ulang Tahun–25022008
April 7th, 2008 by tututhTERUS Selamanya menjadi Jurnalis yang Handal dan objektif didalam
peliputannya dan yang lebih penting lagi SELALU jadi orang yang berjiwa
LEMBUT dan PENOLONG
Kau begitu sempurna
Dimataku kau begitu indah
kau membuat diriku akan slalu memujimu
Disetiap langkahku
Kukan slalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu
*
Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Reff:
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu
Sempurna.. Sempurna..
Kau genggam tanganku
Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata dan hapus semua sesalku
- Andra & The Backbone -
(Note : Thanks for this gift. I like this song so much. Thanks ci Melia ;-))
Senja
berganti
harapan….
Rupa
bersama
bahagia….
Selaras
perjalanan
hempasan
masa….
Hidup
indah…jerih
payah
demi
Cinta…
Bersama
melihat
ke
depan..membangun…
Spiritual
dalam
sendiri
tengadah,
Siapakah
aku?
Kepada
Tuhan
Yang
Maha
Kuasa,
Jadikanlah
aku
alat
Perdamaian-Mu..
Dimana
ada
kebencian,
biarlah
aku
menabur
kasih…
Dimana
ada
sakit
hati,
maafkanlah
aku..
Dimana
ada
keputusasaan,
hadirkanlah
diri-Mu,
Dari
pusat
sanubari
Tuhan,
Biarlah
seluruh
bumi
diberkati
dengan
pengertian,
keselarasan,
dan
kedamaian
Illahi
Suci
mekar
indah
di
hati…
Tercantik
tumbuh,
cantik,
tak
perlu
wajah…
(Tutut Handayani, 11/02/2008)
Doa untuk Sekeranjang Tempe
Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa tempe Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan tempe ini yang nanti mengantarku ke surga,
Tengah, hiduplah seorang ibu penjual
sebagai penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari
bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang. "Jika
kenapa aku harus menyesalinya. .." demikian dia selalu memaknai hidupnya.
Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun tempe , dia berjalan ke dapur. Diambilnya Tempe yang akan Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi tempe .
berkemas. Mengambil keranjang bamboo tempat
tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh.
dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang, sebagian berderai, belum
disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian.
untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk makan, dan modal
membeli kacang, yang akan dia olah kembali menjadi
Di tengah putus asa, terbersit harapan di tempe . Hanya kepada-Mu kuserahkan
dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil.
Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. "Ya Allah,
Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina
ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi
nasibku…" Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya.
Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun tempe . Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung. tempe . Dan… dia kecewa.
Tempe itu masih belum juga berubah. Kacangnya
pembungkus
Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus
belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum,
dia berdiri.
Dia yakin, Allah pasti sedang tempe itu pasti akan jadi. Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi. "Ya Allah, tempe . Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku, kabulkan doaku…"
"memproses" doanya. Dan
setia beribadah seperti dia. Sambil meletakkan semua
aku tahu tak pernah ada yang Mustahil bagi-Mu. Engkau maha tahu, bahwa tak ada
yang bisa aku lakukan selain berjualan
Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju tempe . Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun
pasar, dia buka lagi daun pembungkus
itu, dan… belum jadi. Kacang itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan
apa pun atas ragian kacang tersebut. "Keajaiban Tuhan akan datang…
pasti," yakinnya.
Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang
perjalanan itu, dia yakin, "tangan" Tuhan tengah bekerja untuk
mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia
memanjatkan doa… berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.
Sampai di pasar, di tempat dia biasa tempe !" batinnya. Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus
tempe itu, pelan-pelan. Dan… dia terlonjak.
Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama
berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu. "Pasti sekarang telah
jadi
seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi.
Kecewa, aitmata menitiki keriput pipinya. tempe ini tidak jadi? Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian
Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa
batinnya berkecamuk. Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di
atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan
ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar… merasa
sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku, batinnya. Airmatanya kian menitik.
Terbayang eso
Dedicated for someone who looking for a peace
Perjalanan hidupku sudah lama berlangsung. Aku tidak menyesalinya. Sesekali, perjalananku sangat gelap dan penuh bahaya. Terkadang, bahagia, penuh sinar matahari. Lebih sering penuh kesulitan daripada kemudahan. Jalannya sejak awal dipenuhi mara bahaya, belantaranya rapat, gunung-gunungnya tinggi, kekelamannya menyeramkan. Tapi di tengah-tengah semua itu, bahkan di antara kabut, ada setitik kecil cahaya, sebuah bintang kecil yang menuntunku.
Aku sudah pernah bersikap bijak maupun bodoh. Aku sudah dicintai, dikhianati, dan ditinggalkan. Dan, dengan sedih kuakui, aku sudah melukai orang lain tanpa sengaja. Dengan rendah hati aku mohon maaf kepada mereka. Aku sudah memaafkan mereka yang menyakitiku, dan aku berdoa semoga mereka memaafkanku karena sudah menyakiti hati mereka.
Aku sudah mencintai dengan segenap hati, memberikan seluruh hati dan jiwaku. Dan, meskipun pernah terluka parah, aku tetap melanjutkan perjalananku, ditemani iman, harapan, dan bahkan kepercayaan yang membabi buta, menuju cinta dan kebebasan. Perjalanan berlanjut, lebih mudah daripada sebelumnya.
Bagi Anda yang masih tersesat di dalam kegelapan, semoga kawan seperjalanan Anda memperlakukan Anda dengan baik. Semoga Anda menemukan pelabuhan aman, dan tempat-tempat terbuka di tengah hutan belantara saat membutuhkannya.
Semoga Anda menemukan air segar yang aman untuk diminum, menghilangkan dahaga, dan membasuh luka-luka Anda. Dan, semoga suatu saat Anda menemukan penyembuhan sejati.
Saat kita berjumpa, tangan kita akan bertaut dan kita akan saling mengenal. Cahaya itu ada di sana, menanti kita. Dengan cara kita sendiri, kita harus melanjutkan perjalanan sampai kita menemukannya. Untuk mencapainya, kita membutuhkan tekad, kekuatan, keberanian, rasa syukur, dan kesabaran. Dan, setelah itu, kebijakan. Pada akhir perjalanan, kita akan menemukan diri kita sendiri, kedamaian, dan cinta yang sampai kini hanya ada dalam impian kita.
Semoga Tuhan melancarkan perjalanan dan melindungi kita.
(tutut/d.s/Danau Kelimutu—NTT, pertengahan Nopember, 2007)
Note : Saya sangat suka lagu ini, buah karya Yovie Widianto
Tak pernah kusangka aku di sini
Bersamamu dalam hatiku
Setiap langkah ini begitu berarti
Membuatku tegar hidupku
Ku tak takut tuk melangkah genggam erat tanganku
Engkau hadir saat tangis dan tawaku
Engkau ada dan tlah menangkan hatiku
Semua cinta yang telah kau beri
Yakinkan aku tuk bermimpi
Dan kemenangan ini milik kita
Terkadang ku merasa tak akan mampu
Melewati beratnya hari
Tapi keyakinanmu pada diriku
Membuaku tuk berdiri lagi
Ku tak takut tuk melangkah genggam erat tanganku
Engkau hadir saat tangis dan tawaku
Engkau ada dan tlah menangkan hatiku
Semua cinta yang telah kau beri
Yakinkan aku tuk bermimpi
Dan kemenangan ini milik kita
Semua ini hanyalah milikmu
Engkau hadir saat tangis dan tawaku
Engkau ada dan tlah menangkan hatiku
Semua cinta yang telah kau beri
Yakinkan aku tuk bermimpi
Dan kemenangan ini milik kita
<!–
@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm }
P { margin-bottom: 0.21cm }
–>
Dedicated
to Mr Rustam bin Muryawan (Alm) 1936-2007 (Desember)
Cerita di bawah ini,
hanya sebuah kisah sederhana yang menggambarkan sosok pria tua yang
sangat kukagumi daya juang hidupnya. Senang dan susah selalu
‘disapa’nya dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajah yang
berkeriput dengan pancaran muka yang sangat ikhlas.
Saya mengingat pernah
menuliskan kisahnya pada tahun 2006. Sebuah kisah yang membuatku
untuk selalu terus merasa bersyukur pada-Nya. Sosok yang membuatku
untuk selalu bermawas diri dan menjalani apa adanya serta mengenal
nikmatnya rasanya dimaafkan dan memaafkan.
Bapak Rustam, bagi
sebagian orang, tentu bukan siapa-siapa, tetapi tidak bagiku! Beliau
adalah sahabatku yang setia, tempatku ‘berlari’ ketika dilanda
jenuh pada saat deadline liputan. Saya akan mendatangi rumahnya yang
berada di perkampungan dekat rel stasiun Tanah Abang. Tentu saja,
dengan perjanjian di pagi hari sebelumnya kalau saya bertemunya di
taman dimana dia biasa menyapu. Ya! Bapak Rustam hanya seorang
penyapu jalan..
Bapak Rustam adalah
pendengar setiaku. Ketika ajang curhat berakhir, Beliau akan
menghibur dengan berbagai banyolan dengan logat khas Betawi
pinggiran. Namun, banyolan yang dilontarkan padaku bukan sekedar
banyolan, tetapi penuh makna yang sangat dalam. Kadang, dalam
perjalanan pulang ke kantor—di bajaj—saya merenungi semuanya
kembali. Duh, Beliau sunguh bijak! Meskipun kekurangan, Beliau tetap
memperlakukanku dengan penuh hormat selaiknya tamu biarpun wajah saya
sudah ‘cukup’ familiar di keluarganya. Sungguh, saya tidak mau
bermaksud merepotkan Beliau dan keluarganya. Segelas teh hangat tawar
selalu dihidangkan Beliau.
Saya sangat terkesan
dengan omongan Beliau ketika pertama kali menghidangkan teh tawar
untuk saya pada saat kunjungan perdana ke rumahnya. “Non Tutut,
maaf ya Bapak cuma bisa kasih teh tawar! Ga punya gula, abis duitnya
ga ada!,” tukasnya tanpa basa-basi. Saya ingat, saat itu saya hanya
menjawabnya dengan kalimat,”Ngga apa-apa kok pak! Ini juga terima
kasih sekali”. Ketika saya meminum teh di gelas belimbing—gelas
hadiah kalau beli sabun cuci/deterjen—Beliau berkata,”Non Tutut,
biarpun teh itu manis sekali, kalau lidah kita tidak bisa
merasakannya nikmatnya, teh itu akan tetap terasa tawar. Begitupun
kalau teh itu pahit sekali, jika lidah kita ‘mati rasa’, rasa
pahit itu juga tidak akan terasa. Semuanya akan terasa ‘tawar’!”.
Saya cerna kata-katanya
itu. Duh..sangat dalam sekali! Ya! Lidah yang ‘mati rasa’ itu
ibarat hati kecil kita dalam mensyukuri apa yang sudah kita miliki,
baik kesenangan maupun kedukaan. Hati kecil kita ini yang akan
menuntun kita untuk bagaimana menyikapi berbagai persoalan. Kalau
hati kecil kita sudah ‘mati’, berarti diri kita sudah mati
biarpun masih ada nyawa di raga. Nah, rasa ‘tawar’ setiap
individu itu berbeda-beda, sangat tergantung bagaimana ‘mata hati’
kita memaknai berbagai macam kerbekahan dan kedukaan dalam hidup
kita. Karena, kebahagiaan sejati, hanyalah DIRI kita yang
menentukannya. Bukan siapa-siapa!
Tentu saja, hasil cernaan
kalimat Beliau yang saya uraikan panjang lebar di atas itu hanya saya
simpan dalam hati dan benak. Saya hanya sampaikan pada Beliau, “Wah,
kalau begitu, saya masih kurang bersyukur ya, Pak! Dan, masih kurang
sabar dan ikhlas ya, Pak!”. Beliau hanya menjawabnya, “Non Tutut
masih banyak harus belajar. Masih mending Non punya kesempatan buat
terus belajar! Anggaplah semua yang menyedihkan dan menyenangkan hati
Non Tutut itu hanya bunga kehidupan. Biasa-biasa saja karena itulah
hidup! Persoalan akan selalu ada, tetapi Oloh (maksudnya Allah karena
Beliau menyebutnya dengan cepat sehingga terdengarnya Oloh, red) kan
memberikan kita otak dan hati untuk berpikir dan belajar bagaimana
menghadapi dan menyelesaikan persoalan!”.
Lalu saya bertanya balik,
“Bagaimana kalau kita merasa masalah itu belum selesai dan sulit
sekali kita terima?”. Hmm…..Jawaban Beliau sungguh kocak.
“Selesai ngga selesai yang dikumpulin, Non! Ya…kaya Non ujian di
sekolah!”. Haaaa….saya hanya bisa melongo mendengar jawabannya
dan akhirnya tertawa. Iya juga, ya?? Beliau mengajarkan saya kalau
semua cobaan itu sebagai ujian dan serahkan kembali dengan ikhlas
cara kita ‘menjawab ujian’ itu sepenuhnya pada Maha Guru, yakni
Allah. Biarkanlah Allah yang menilainya bagus atau buruk ‘hasil
ujian’ itu. Yang terpenting, kita sudah berusaha sebaik mungkin
‘menyelesaikan ujian’ itu. Dan, kalaupun hati kita masih ‘merasa
belum puas dengan hasil yang bakal kita dapatkan’ mungkin karena
kita orang yang kurang puas atau malas belajar—sudah tahu ‘ada
ujian’ kok ngga punya persiapan alias belajar dari buku atau
pengalaman diri dan orang lain—jadikanlah ‘rasa tidak puas’ itu
memotivasi diri untuk tidak mudah menyerah dalam mencoba berbuat yang
terbaik.
Gagal dalam hal yang
sama? Beliau hanya berkata,”Ngapain harus malu? Namanya juga
hidup,Non! Kita kan ga pernah tahu dikasih soal ujian yang seperti
apa oleh Oloh (Allah, red)! Eh…ngga tahunya, soal ujian yang sama
seperti kemarin! Ya, udah, kita coba aja lagi! Malah kita beruntung,
berarti kita sudah semakin terampil menjawab soal ujian yang sama
itu. Toh, kita kan sudah lebih bisa dan terbiasa menentukan jawaban
apa yang paling pas dan baik untuk soal yang sama ini”. Hm….benar
juga! Mengapa harus malu dan bersedih hati. Melihat saya terdiam,
Beliau melanjutkan, “Artinya, Non Tutut itu sangat disayang Oloh!
Oloh pengen banget Non itu lebih terampil dalam menjalani hidup! Dan,
jangan pernah berharap mendapatkan jawaban karena tidak akan pernah
ada jawabannya, Non! Hanya Oloh yang punya jawabannya! Percaya deh,
Oloh itu ga pernah tidur! Dengan sendirinya Oloh akan memberikan
jawaban itu yang kadang kita ga menyadarinya bahwa Oloh telah
memberikannya dalam bentuk yang ga pernah kita pikirkan”.
Kemudian, Beliau berkata,
“Seperti saya yang dulu-dulu banget pernah bertanya kenapa kok saya
dilahirkan miskin ?? Bener loh, Non! Saya juga pernah bertanya pada
Oloh! Kok, kayanya ga ada habis-habisnya Oloh ngasih cobaan. Apalagi
kalau saya lagi sedih banget ngeliat anak nangis kelaparan, kurang
uang sekolahnya, ngiri sama temannya karena ga punya baju lebaran,
dan isteri dimarahin yang punya warung karena banyak utang!”.
“Tetapi, ketika saya berusaha mencari jawabannya, saya hanya bisa
pasrah, Non! Ya, udah saya jalani saja takdir ‘miskin’ saya,
Non!”,” tambahnya.
Dasar saya, saya bertanya
balik, “Ah, masa Bapak langsung se-pasrah itu?”. Jawabannya
sungguh di luar dugaan! “Abis ngeri sih Non kalo saya ditakdirin
jadi orang kaya yang ga punya hati! Korup, anaknya narkotik, istri
pacaran lagi, dan masuk penjara! Mendingan saya, biarpun miskin tapi
tetap sehat, isteri setia dan ikhlas mau nerima uang berapun yang
saya dapat, dan kalaupun anak perempuan saya ditinggal kabur oleh
suaminya, berarti saya masih ada yang kurang saya syukuri tuh! Sedih
emang punya mantu kurang ajar! Kasihan anak saya! Tetapi, saya
katakan pada anak saya, kamu harus bersyukur berarti kamu dilepaskan
dari laki-laki semacam itu. Dan, kamu masih punya keluarga yaitu ayah
ibu yang masih sayang sama kamu dan membela kamu,” tuturnya
berapi-api.
Semua cerita di atas,
hanya sekelumit percakapan yang sangat mengesankan hatiku. Terlebih
dengan kalimat Beliau satu ini. “Non Tutut, mau kita kaya atau
miskin, kita senang atau sedih, jangan pernah lupa berdoa sama Oloh
ya! Berdoa untuk terus diberikan hati nurani yang menuntun dan
melindungi kita untuk tidak menyakiti hati orang lain! Dan, bukalah
pintu maaf selebar-lebarnya di hati, Non! Karena Oloh aja Maha
Pemaaf,”paparnya. “Belajar memaafkan diri sendiri terutama!
Belajar memaafkan atas ketidaksempurnaan karena Oloh ga pernah
memberikan hidup kita sempurna seperti yang kita inginkan dan
pikirkan. Karena hanya Oloh yang tahu kesempurnaan yang ‘paling
pas’ untuk kita dan Oloh yang paling sempurna. Jadi, jalani saja
apa adanya,” tambahnya.
Ya, saya setuju sekali
Bapak Rustam! Itulah mengapa saya senang sekali berbicara dengan
Beliau. Biasanya, di setiap akhir pertemuan, Beliau akan bilang
begini pada saya,”Ayo dong senyum, Non Tutut! Kata isteri saya,
kalau Non senyum itu manis dan ada lesung pipitnya loh, Pak,”.
Hehehe…bisa saja si Bapak Rustam ini.
Sayangnya, sahabat baik
saya ini sudah tidak akan bisa saya temui lagi! Beliau telah ‘pergi’
untuk selama-lamanya. Sebuah mobil menabrak tubuh ringkihnya dengan
kejam dan membiarkannya tergeletak sejenak di pinggir jalan ketika
Beliau akan pergi bekerja pada Minggu pagi awal Desember yang indah.
Padahal sedikit lagi, Beliau akan sampai di tempatnya menjalankan
profesinya, dekat ikon kebanggaan ibukota. Beliau adalah orang baik
sehingga tubuhnya tak harus ‘berbaring lama’ di pinggir jalan
yang ‘sepi’. Beliau adalah sosok yang dicintai oleh tetangganya
yang seorang supir bajaj yang mengenalinya tubuhnya yang sedang
meregang nyawa. Dibawanyalah ke RS Tarakan, rumah sakit yang dekat
dengan rumahnya. Namun, ternyata Allah jauh lebih sayang padanya.
Rasanya sudah saatnya Beliau harus ‘pergi’ dan mendapatkan
kebahagiaan dan kedamaian abadi yang selama ini Beliau dambakan. Dan,
hanya Allah yang bisa memberikannya.
Wajahnya yang pucat
menyembul dari balik kain kafan yang ditutupi kain putih tipis tembus
pandang. Sepertinya saya melihat Beliau tersenyum, tidak terbersit
mimik rasa sakit yang bisa saja Beliau rasakan ketika tubuh mobil itu
menabraknya. Sungguh damai sekali senyum di wajah itu! Seperti orang
yang sedang tidur lelap dan bermimpi indah saja. Dan, saya bersyukur
sekali masih bisa mendapatkan kesempatan melihat wajah itu terakhir
kali sebelum ditutup karena akan dibawa ke perkuburan. Dari biliknya
yang sederhana, alunan Yasin dan asma Allah mengiringi jenasah untuk
disholatkan di mushola lalu dibawa ke perkuburan.
“Selamat
jalan, Sahabat! Tidurlah dengan tenang! Setulusnya saya mohon maaf
lahir dan batin. Terima kasih pula atas ketulusan hati Bapak selama
ini”. Innalillahi wa inna lillahi rojiun. (Desember, 02, 2007)
Inilah
cerita mengenai Beliau : Sesosok
Wajah Tua di Taman Tanah Abang 3
Tiap pagi…jam 07.30
wib….wajah ini selalu terlihat. Wajah lelaki tua yang selalu penuh
senyum menyapa saya, “Selamat Pagi, Non!”. Saya pun hanya bisa
tersenyum dan menyapa kembali sapaan ramahnya tersebut. Setiap pagi
selalu begitu! Setiap saya melewati jalan Taman Tanah Abang 3 menuju
kantor SWA dari arah Cideng Raya. Bukan dari arah Tanah Abang 3.
Lebih dari tiga bulan saya selalu melihatnya.
Nama bapak tua itu, bapak
Rustam. Beliau hanya seorang penyapu jalan di kawasan permukiman yang
kebetulan menjadi lokasi kantor saya. Awalnya, saya heran ada sosok
yang sudah begitu lanjut masih bekerja seperti itu. Usianya 70 tahun.
Tangan keriputnya memegang sapu lidi panjang dan rajin memunguti
dedaunan yang berguguran. Setiap tempat sampah penghuni perumahan itu
dibukanya satu persatu. Isinya disapu bersih dan dimasukan kedalam
keranjang bambu besarnya. Terlihat sekali langkahnya yang
tertatih-tatih dan nafas yang terengah-engah menggeret keranjang
bamboo-nya tersebut. Namun, tak sekalipun mengeluh. Setiap pagi,
beliau terlihat ikhlas sekali mengerjakan semua rutinitasnya itu.
Awal perkenalan saya
dengan beliau—-kenal tidak sekedar membalas sapaannya—- terjadi
karena hujan. Itupun sapaan hadir karena saya selalu melewati jalan
tersebut. Dan, seringkali langkah saya terhadang oleh tubuhnya yang
sedang menyapu jalanan tersebut. Saya hanya bisa bilang, “Permisi,
Pak!,” kepadanya jika saya melewatinya yang sedang jongkok atau
nunduk-nunduk memunguti sampah.
Pagi itu, tanggal 05 Juni
2006 pukul 07.30 wib, hujan membasahi jalan Taman Tanah Abang 3.
Hujan ‘kecil’ itupun tentu saja meninggalkan genangan air. Saya
yang sedang kerepotan dengan tas selempang yang cukup berat isinya
plus tas kantong bergambar Snoopy dan payung harus ikhlas kecipratan
air yang dilakukan oleh sebuah mobil yang tidak tahu sopan santun.
Saya hanya bisa keqi dan misuh-misuh melihat baju yang basah akibat
mobil ngga sopan itu. Kebayang dong! Udah rapi jali dari rumah,
berantakan kaya kucing kejebur kolam. Kuyup…..Suebellll banget.
Untungnya, di kantor saya selalu sedia baju pengganti, termasuk
celana panjangnya. Buat jaga-jaga saja!
Ketika hati saya masih
keqi, tiba-tiba bapak tua ini berkata ke saya. “Yang sabar ya, Non!
Saya mah sudah biasa,” katanya pada saya. Saya hanya bisa
menganggukan kepala, tapi keceplosan juga, “Iya nih! Ngga sopan
banget sih. Mentang-mentang naik mobil. Mobil boleh bagus, tapi nyang
nyupir ngga tahu adat”. Bapak tua itu hanya tersenyum sambil
membantu saya membereskan tas Snoopy yang terjatuh dan isinya
berantakan. Beliau-pun kembali ke tempatnya berteduh dengan badan
yang mulai membungkuk. Saya ucapkan terima kasih padanya.
Pagi, tanggal 6 Juni
2006, pada jam yang sama, saya kembali melihatnya. Sepertinya
pekerjaan menyapunya sudah selesai karena beliau terlihat duduk-duduk
di bangku taman. Sapu lidi panjangnya tersampir disampingnya.
Tangan-nya mengipas-ngipas topi merah lusuhnya. Berbeda dengan pagi
sebelumnya, pagi 6 Juni itu terasa panas untuk ukuran cuaca di pagi
hari. Karena saya pikir hari masih terlalu pagi (he..he..untuk ukuran
jam kerja wartawan), saya langkahkan kaki menghampirinya. Saya duduk
disampingnya. Inilah awal perkenalan yang sesungguhnya. Saya tahu
namanya,begitupun beliau. Kita ngobrol banyak hal. Ternyata, bapak
Rustam ini bekerja untuk menghidupi anak dan cucunya serta isterinya.
Anaknya hanya seorang buruh cuci yang ditinggal lari suaminya. Sudah
puluhan tahun beliau menyapu jalanan. Dulunya dekat kawasan kantor
walikota Jakarta Pusat. Lokasinya berpindah-pindah. Sekarang, beliau
hanya menyapu kawasan permukiman dimana kita mengobrol.
Beliau bekerja dari jam
06.30 sampai jam 08.30 atau 09.00 wib. Gajinya pun sangat kecil.
Ketika beliau menyebutkan angkanya, saya hanya bisa menelan ludah.
Glek! Untuk nambah-nambah, siangnya atau sore hari terima pekerjaan
sampingan. Seperti menyapu juga di taman-taman kota Jakarta, misalnya
di kawasan Monas atau sepanjang jalan Thamrin. Itupun, penghasilan
yang diperolehnya tetap tidak menyukupi untuk membiayai kehidupan
yang minimal layak di Jakarta. Tapi, beliau hanya bisa bilang ke
saya, “Berapun gaji saya, Non, saya terima aja. Ikhlas! Yang
penting bisa buat makan anak, cucu, dan isteri satu hari,”. Setelah
obrolan yang agak panjang, saya baru tahu, saking ingin menghemat
pendapatannya hari itu, beliau tidak sarapan bahkan tidak makan
siang. Beliau harus milih, kalau sarapan, berarti, beliau tidak makan
siang. Begitupun sebaliknya. “Kalau saya sering-sering makan,
berapa yang bisa saya bawa pulang, Non?,” tanyanya pada saya.
Sebuah pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Bahkan, sulit
sekali saya menjawabnya.
Ketika mendengar semua
itu, saya ngebatin dalam hati, kuat juga bapak ini?! Padahal
pekerjaannya kan butuh energi banyak. Saat ngobrol itupun, saya dan
bapak Rustam sarapan bubur ayam. Mentraktir bubur ayam Bapak Rustam
pun, cukup alot ngerayunya. Bolak-balik beliau menolak! Tapi, saya
acuhkan omongannya. Saya paksa bapak Rustam harus sarapan. Apalagi
saya tahu bapak Rustam belum sarapan. Saya pun kembali mengucapkan
terima kasih atas bantuannya kemarin, yang membuat saya basah kuyup.
Beliau hanya bisa bilang, sama-sama.
Dan, beliau akhirnya
kembali bercerita pengalamannya menyapu jalanan. Apa yang saya
dapatkan itu masih jauh lebih baik dibandingkan dengan apa yang
pernah beliau alami. Beliau pernah menyapu jalanan dengan pakaian
basah kuyup yang tetap melekat di badannya. Basah kuyup karena
kehujanan dan makin basah karena tersiram mobil atau motor yang suka
ngga kira-kira nyetirnya. Iya juga ya? Saya masih mending ada baju
pengganti. Beliau?? Kebayang kan betapa menggigilnya! Belum lagi,
kalau jalanan yang sudah disapunya bersih-bersih, eh…ada yang buang
sampah sembarangan. Terutama puntung rokok dan bungkus permen atau
tissue.
Tetapi, ada yang membuat
beliau terkesan dengan saya. Beliau merasa terharu oleh sapaan
Permisi saya. Waduh! Saya ngga nyangka saja! Sapaan yang saya pikir
hanya ucapan sopan santun pada orang apalagi orang tua. Terlebih,
seringkali, saya melewati beliau ketika beliau sibuk dengan tumpukan
sampahnya. Atau, posisi berdirinya ketika menyapu sedikit menghalangi
jalan saya. Beliau mengatakan dirinya tidak menyangka masih ada orang
yang menghargai keberadaan dan jerih payahnya. Seringkali orang suka
main lewat begitu saja. Mencet klakson keras-keras kalau posisi
berdirinya menghalangi mobil atau motor yang lewat di kawasan
permukiman itu. Atau..tetap..werrrrr melaju dengan kencang membuat
tumpukan daun atau sampah yang susah payah disapu oleh tangan
keriputnya berhamburan kembali. Aduh…alasan yang dikatakan, sungguh
saya tidak pernah menyangkanya. Inilah yang menyebabkan beliau selalu
mengucapkan,” Selamat Pagi, Non!,” kepada saya.
Ngga terasa sudah satu
jam saya ngobrol dengan Bapak Rustam. Saya-pun permisi untuk
melanjutkan ke kantor. Kejadian ini membuat pagi, 07 Juni 2006, saya
disapa lebih lengkap, “Selamat pagi, Non Tutut!,”. Dan, bapak
Rustam pun, memberikan saya combro yang dibeli oleh anaknya. Katanya,
tanda terima kasih darinya dan keluarga karena saya sudah mentraktir
sarapan kemarin. Saya sudah menolak dengan sopan. Tapi, bapak Rustam
bersikeras saya harus menerimanya. Beliau bilang, “Tolong, Non
Tutut jangan ditolak combronya. Kalo ngga enak combronya, jangan
dibuang ya, Non!,”. Walhasil, saya ke kantor dengan lima potong
combro. Sambil berjalan ke kantor, saya berpikir, saya harus semakin
banyak-banyak bersyukur dalam hidup ini.
Sungguh cantik kebaya itu….
Tersampir dengan manis di balik pintu kamar….
Aku hanya bisa memandangnya dengan perasaan yang tak menentu….
Sampai-sampai, aku tidak menggambarkannya dengan kata-kata tentang apa yang kurasakan…..
Bahkan….untuk mengekspresikannya dengan sebuah kalimat sederhana pun aku tak mampu…..
Cuma….
Ada satu yang terbersit di benak….
Aku tidak akan memakai kebaya itu (saat ini)…..entah nanti…..
Tapi…yang kuingin tahu…..
Apakah aku membuatnya tanpa tujuan?
Sebuah tujuan yang dikatakan hanya aku yang berharap banyak…
Harapan yang dirasakan terlalu berlebihan…..
Padahal…..
Kebaya itu hadir oleh sebuah permintaan…..
Ah….mungkin….seharusnya permintaan itu jangan kutanggapi serius….meskipun aku telah diyakinkan sedemikian rupa…..
Dan…seharusnya…kebaya itu akan menjadi kabar bahagia…..
Tapi…..
Hmmpphhhh……aku sadar…..kabar bahagia itu harus tertunda…..
Dan…aku sadar….kadang tidak semua keinginan itu harus terwujud dalam kenyataan….
Tapi…..
Aku kangen sekali dengan kebaya itu…..
Kebaya yang kudisain dengan penuh cinta….meski bukan diriku yang menjahitnya…..
Apa kabar kebaya merahku???
Maafkan aku ya…kalo ‘kamu’ hanya akan kutaruh dalam lemariku…..
Entah kapan akan kupakai…..
Namun….jangan khawatir…..’kamu’ pasti akan kupakai…..
Karena ‘kamu’ adalah bagian dari cintaku…..
(Kelimutu-Flores, 2007)
“Mama…bangun, Mam!”. Duh, tumben
banget, pagi ini, mamam susah sekali dibangunkan. Sekali lagi
kutepuk-tepuk halus ujung kakinya. “Mam, bangun! Katanya mamam mau
pergi ke pengajian?” tanyaku padanya. Hm…mata mamam tetap terpejam
erat. Aduh, ada apa gerangan? Pikiran liar memenuhi segera memenuhi
benakku. Mengapa? Karena tidak biasanya mamam seperti ini.
Mamamku
punya kebiasaan, terlebih di masa pensiunnya, sehabis subuh, kalau
tidak ada acara senam jantung pagi, dia akan tidur kembali dan bangun
pada pukul 7 atau 7.30 Wib setiap harinya. Itupun tidak perlu
dibangunkan. Tapi, tidak hari ini, Selasa, 23 Oktober 2007. Kuraba
dahinya, panas sekali dan ujung kakinya yang ‘dingin’. Tiba-tiba, mamam
menggumam keras, seperti ingin berbicara tapi lafalnya sangat tidak
jelas. Kuraba pergelangan tangannya untuk menghitung denyut nadinya.
Duh…punahlah sudah niatku untuk berangkat ke kantor hari ini.
Aku
tidak ingin ‘kecolongan’ karena apa yang dialami mamamku ini, persis
sekali dengan apa yang terjadi pada almarhum papap 6 tahun lalu.
Untungnya, saat itu, ada ibu yang bantu-bantu nyuci di rumah.
Bersamanya, kupapah mamam ke mobil yang kularikan kencang menuju rumah
sakit terdekat. Pagi itu, adik-adikku sudah kembali pada rutinitas
kantor masing-masing. Sesekali, kulirik kondisi mamam dari balik spion.
Tuhan, jangan biarkan ibuku ‘pergi’! Kalau boleh kumeminta pada-Mu,
jangan biarkan ia pergi! Bolak-balik, kalimat itu kupanjatkan!
Sekelebat, aku ingat almarhum papap. Semuanya terjadi sesudah Lebaran.
Almarhum papap pada hari ketiga lebaran, dan mamam? Aduh..kubuang
jauh-jauh rasa cemas ini! Apa yang kulakukan saat ini, persis dengan
apa yang kulakukan pada almarhum papap setelah serangan jantung
pertamanya 6 tahun lalu. Kularikan cepat mobil ini yang rasa-rasanya
lama sekali sampainya.
Alhamdullilah,
mamam segera ditangani oleh dokter-dokter ICCU, khusus untuk penanganan
stroke dan jantung. Jujur, aku ga berani membayangkan kalau terlambat
sekian detik karena tekanan darah mamam sangat tinggi sekali. Dan, aku
bersyukur sekali rumah sakit ini tidak menerapkan prosedur yang
berbelit dalam proses administrasiannya. Mereka cukup berempati dengan
keluarga pasien yang sedang resah dengan memberi waktu untuk bernapas
sejenak. Seperti yang kulakukan yang hanya bisa bersender pasrah di
dinding ruang ICCU sambil mengamati semua gerak-gerik dokter dan
perawat memasang berbagai peralatan di tubuh mamam. Sebagian diri ini
merasa ‘lepas’ melihat wajah wanita yang sudah mendampingiku selama 33
tahun terakhir. Rasa sakit yang tidak bisa kulukiskan tersembul dalam
hatiku melihat kondisi mamam. Dan, setelah dokter jantung yang biasa
merawat mamamku datang, aku bisa bernapas sedikit lega, terlebih
setelah mengatakan mamam ‘aman’.
Kupandangi sana ,
seksama mesin penghitung detik jantung yang ada di samping mamam.
Tuhan, sungguh aku benci dengan bunyi mesin jantung ini, tapi akan
sangat benci kalau mesin ini berhenti berbunyi. Maafkan aku ya, Tuhan!
Aku masih ingat sekali ketika mesin ini berbunyi ‘tit’ panjang sekali
yang menandakan ‘kehidupan’ papap berakhir. Berhenti setelah papap
sempat membuka matanya dan menangis terakhir kalinya setelah kubisikan
asma-asma-Mu, Tuhan! Setelah kumelakukan percakapan dari hati ke hati
dengan beliau. Di ujung matanya mengalir air mata yang kuhapus dengan
usapan tangan dan ciuman. Dalam hidupku, rasa syukur selalu kupanjatkan
karena aku bisa mendampingi masa-masa terakhir beliau. Sedih? Sangat
sedih! Namun, ketika kupandang mamam, apakah aku akan sekuat dulu??
Tuhanku, bukan hatiku ingin mengingkari takdir-Mu, tolonglah, jangan
ambil ibuku! Dia sumber kekuatanku, selain diri-Mu! Dan, masih banyak
rencana yang ingin kuperbuat untuknya! Kubersimpuh di ujung kakinya
sambil bolak-balik menciuminya. Memohon maaf atas semua kesalahan diri
dan adik-adikku! Bolak-balik, ponselku bergetar yang membuatku harus
keluar ruangan. Di ujung
adik perempuanku menangis terisak-isak sambil menanyakan kabar mamam.
Dia akan pulang segera dengan taksi berbarengan dengan adik
laki-lakiku. Kakakku tidak bisa datang karena dia masih di luar negeri
akibat tugas jurnalistiknya. Dia menangis, terdengar dari suaranya yang
sesenggukkan.
Mataku
menerawang dan kembali menjatuhkan pandangan pada wajahnya yang sudah
semakin menua! September kemarin, mamam genap 60 tahun. Duh, ternyata
masih banyak sekali yang belum kulakukan untuknya. Aku teringat sekali
percakapanku dengannya yang membuatnya ingin bergabung dan tinggal di
panti jompo April lalu. (Lihat artikel, sebuah kisah cinta untuk Mamam).
Percakapan itu membuka mataku kalau aku lalai menjaganya sehingga
beliau merasa sangat kesepian. Tapi, yah…manusia…daya tahan tubuh pasti
ada batasnya meskipun kita sudah menjaga kesehatan jiwa dan raga.
Namun, mamam, jujur kalau harus kehilanganmu, aku tidak kuat! Meski
semua ini, kembali lagi adalah kehendak-Nya yang bisa dengan tiba-tiba
mengambil kita. Sepertinya, semalam, kita masih tertawa bersama ya,
Mam? Tapi, siapa sangka, kalau pagi ini berubah menjadi tangisan? Ya,
aku akhirnya menangis, Mam! Menangis karena tidak sempat mengatakan Aku
Sayang Padamu, Mam! Dan, aku takut sekali kehilanganmu. Namun, jika
waktu yang menghentikannya, aku hanya bisa menyampaikan lewat doa
seperti yang kuberikan pada almarhum papap. Semoga aku masih termasuk
anak yang baik di mata-Nya agar doa-doaku sampai pada papap.
Mamam, aku tahu banget banyak beban pikiran di benakmu akhir-akhir ini. Aku tahu karena mamam susah mengatakannya,
kan ? Tapi, kita berdua tahu apa yang menjadi akar permasalahannya.
Kan ,
kita sudah berjanji akan memasrahkan semuanya pada-Nya! Memang sulit
sih, Mam! Tidak segampang yang kita katakan dan pikirkan. Tapi, harus
kita coba jalankan dan bangun rasa Ikhlas di hati ini. Toh, semua ini
ada yang memilikinya, yaitu, pemilik mutlak segala kemegahan alam
semesta ini. Kita hanya bisa menjalankan titipan sesuai fungsi
masing-masing yang sudah digariskan dengan optimal. Biarkanlah hati
kita yang berbicara pada sang-Khalik. Semua ini terjadi juga tidak
terlepas dari tangan-tangan-Nya. Toh, di dunia ini, tidak pernah ada
yang pasti! Yang pasti itu hanya 2 hal, yaitu: Pertama, kita pasti akan
mati. Kedua, matahari akan selalu terbit di Timur dan tenggelam di
Barat. Lainnya?
Semua
kepastian itu tidak akan pernah ada. Tapi, bukan berarti kita hidup
tidak punya tujuan atau target. Toh, kalaupun ingin menjalankan hidup
bagaikan air mengalir, tetap kita harus punya tujuan. Air saja
tujuannya selalu ke laut alias bermuara di laut. Nah, tinggal kita yang
memainkan aliran air itu, apakah kita akan menjadi air bah yang
bertipikal memaksa karena dapat menghancurkan sekelilingnya dengan
tiba-tiba. Atau, air yang tenang tapi menghanyutkan? Namun, untuk
menjadi air yang tenang atau bah sekalipun, tanpa restu-Nya pun, tidak
akan pernah sampai ke laut. Yang terpenting, kita jalanin
sebaik-baiknya dan memohon agar restu-Nya selalu datang dalam setiap
upaya kita mencapai target atau tujuan hidup kita. Kalaupun dalam
perjalanannya, restu-Nya tidak kunjung tiba, yaaa…berdamailah dengan
situasi ini karena bisa jadi ini yang terbaik buat kita. Biarkanlah
hati kecil kita yang berbicara dan ikuti kata hati ini. Hanya inilah
yang membuat diriku belajar untuk semakin arif menyikapi berbagai
persoalan hidup, Mam! Ya…emang ngga gampang sih, Mam! Karena logika ini
sering mengabaikan kata hati yang akhirnya berujung pada
penolakan-penolakan yang membuat pikiran berat dan akhirnya kalau tidak
cerdas menyikapinya akan berbuah stress atau depresi.
Inilah,
Mam mengapa aku sering terlihat pasrah yang kalau orang luar melihatnya
seperti terlalu pasrah sampai seakan-akan seperti tidak punya target
hidup. Tapi, Mam! Terus terang, semua ini sudah menjadi urusanku
pribadi dengan sang Maha Kuasa. Aku ini hanya insan yang lemah yang
sedang belajar memahami dengan baik apa makna kehadiranku di dunia ini.
Itu saja! Dan, jangan khawatir, Mam, aku masih punya impian yang tetap
membuatku semangat untuk bangun pagi dan berupaya optimal untuk meraih
impian itu.
Hidup
ini bagaikan film yang bisa kapan saja dihentikan tombol player-nya
oleh pemiliknya. Oleh karena itu, bagiku, saat ini, setiap detik adalah
waktu yang sangat berharga. Biarpun, kadang, aku masih menyia-nyiakan
detik-detik yang berharga itu. Setiap detik adalah momen yang istimewa.
Dan aku tidak mau kehilangan momen-momen istimewa dan hal-hal yang
kupikir istimewa. Apalagi, orang-orang yang kuanggap istimewa! Aku
hanya ingin pergi dari dunia ini dengan memberitahu semua yang istimewa
itu kalau aku sangat sayang pada mereka. Dan, kalaupun aku yang
ditinggal pergi, aku akan memberitahunya dengan cara-caraku, kalau
mereka sangat istimewa bagiku. Dan, aku sangat sayang pada mereka.
Bukannya narsis! Tapi, betapa senangnya hati ini kalau kehadiran kita
di dunia ini punya makna positif buat orang lain. Artinya, hidupku
tidak sia-sia. That’s all!
Dan,
betapa sedihnya hati ini, ketika kita menutup mata tahu kalau kita
belum sempat meminta maaf. Maka, aku sedang belajar membuka pintu maaf
selebar-lebarnya di hati ini, karena aku juga butuh maaf yang
setulus-tulusnya atas semua kekhilafan diri. Karena ketika kita pun
pergi kelak, kita tidak akan pernah bawa apa-apa. Oleh karena itu,
meskipun matamu terpejam saat ini, semoga mamam tahu kalau aku betapa
sangat menyanyangimu. Aku hanya bisikan kata-kata tersebut di telingamu
dan dengan segala tindakanku. Maafkan aku yang tidak bisa merangkai
kata-kata indah untuk menunjukkan rasa cinta ini. Aku hanya ingin
mengatakan, I Love You, Mama!!
(Sebuah Kenangan di RS Honoris, Tangerang, 23 Oktober 2007)
Dancing in the dark ’til the tune ends
We’re dancing in the dark and it soon ends
We’re waltzing in the wonder of why we’re here
Time hurries by, we’re here and we’re gone
Looking for the light of a new love
To brighten up the night, I have you love
And we can face the music together
Dancing in the dark
What - though love is old
What - though song is old
Through them we can be young
Hear this heart of mine
Wailin’ all the time
Dear one, tell me that we’re one
Looking for the light of a new love
To brighten up the night, I have you love
And we can face the music together
Dancing in the dark, dancing
-Diana Krall-
(Note : Mba Melia, thanks for this lyrics)